Selasa, 16 Agustus 2016

manajemen resiko pada perusahaan garuda indonesia airlines



Manajemen Risiko pada
Perusahaan Garuda Indonesia Airlines



 

 

 
Jurusan Ekonomi Syariah
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
STAIN Kota Pekalongan
Tahun 2015


Profil Perusahaan
PT.  Garuda  Indonesia  (Persero)  Tbk (“Perusahaan”)  didirikan  berdasarkan  akta No. 137  tanggal  31  Maret  1950. Maksud  dan  tujuan  Perusahaan  adalah melakukan usaha dibidang jasa angkutan udara niaga,  serta  optimalisasi  pemanfaatan  sumber daya  yang  dimiliki  Perusahaan  untuk menghasilkan  barang  dan/atau  jasa  yang bermutu  tinggi  dan  berdaya  saing  kuat  untuk mendapatkan/mengejar  keuntungan  guna meningkatkan  nilai  Perusahaan  dengan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.
Perusahaan  berkantor  pusat  di  Jl.  Kebon  Sirih No. 44, Jakarta. Perusahaan  mulai  beroperasi  komersial  pada tahun 1950. Jumlah karyawan  Perusahaan  Per 30 September 2010, Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang.
Per 31  Desember  2014  dan  2013  masing-masing adalah 6.276 dan 5.745 orang. Perseroan memiliki 3 SBU, yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo, SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan, dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC)


            PT. Garuda Indonesia merupakan perusahaan yang berkiprah tidak hanya di Indonesia namun juga luar negeri sehingga berkaitan erat dengan nilai kurs yang bergerak secara fluktuatif.
            Dalam hal ini tentu saja risiko suku bunga sangat berkaitan erat dengan perusahaan ini, selain itu bencana  alam juga berkontribusi dalam hal ini yakni apabila kondisi cuaca tidak menentu sehingga perusahaan harus mengantisipasi risiko – risiko yang akan dihadapi perusahaan.
            Perbaikan pesawat terbang merupakan agenda rutin dan telah terdapat dana yang disediakan guna mengantisipasi hal ini, namun apabila perbaikan pesawat secara tiba-tiba juga merupakan risiko yang harus diwaspadai.
Identifikasi Risiko
Adapun hasil identifikasi risiko  yang terdapat pada perusahaan PT. Garuda Indonesia Airlines :
1.   Risiko Harga Bahan bakar pesawat = Komposisi  biaya bahan bakar untuk saat ini di kisaran 20% -32%  dari  rata-rata  biaya  operasional Perusahaan.
2.   Risiko Nilai tukar mata uang asing (Kurs) = Pergerakan  nilai  tukar  Rupiah terhadap  mata  uang  lainnya  sangat mempengaruhi  laporan  keuangan perusahaan dan entitas anak.
3.   Risiko Suku Bunga = Pergerakan tingkat  suku  bunga  sangat  berpengaruh terhadap  beban  biaya  bunga  yang  harus dibayar oleh Perusahaan dan entitas anak
4.   Risiko Liquiditas Perusahaan = Perusahaan  dan  entitas anak  tidak  dapat  memanfaatkan  peluang investasi  atau  tidak  dapat  memenuhi liabilitas  keuangan  jangka  pendek  yang pada  akhirnya  mengakibatkan  default, peminjaman  yang  berlebihan  atau  tingkat suku bunga yang buruk.
5.   Risiko Kredit = ketidakmampuan  dari  pihak-pihak  yang berhutang  (debitur)  untuk  memenuhi liabilitas  keuangan mereka  sesuai  dengan persyaratan-persyaratan  yang  telah disepakati bersama.
6.    Risiko Properti / perbaikan pesawat = Kerusakan pada pesawat memberikan kontribusi risiko yang terjadi pada perusahaan.
7.    Risiko Bencana alam = Kondisi cuaca yang kadang berubah – ubah merupakan risiko yang bisa saja terjadi pada perusahaan ini.
Mapping Risk





50
50
32

32












12


12





9










Hasil Pengukuran
No
Risiko
Nilai
Klasifikasi Risiko
1.
Liquiditas
9
Risiko Rendah
2.
Perbaikan
12
Risiko Rendah
3.
Kredit
12
Risiko Rendah
4.
Harga Bahan Bakar
32
Risiko Sedang
5.
Suku Bunga
32
Risiko Sedang
6.
Nilai Tukar
50
Risiko Tinggi
7.
Bencana Alam
50
Risiko Tinggi
Alternative dan Strategi Penanggulangan
1.    Strategi untuk meminimalisir risiko fluktuasi kenaikan  harga  yang  dilakukan  oleh perusahaan  pada  saat  ini  adalah  dengan melakukan  lindung  nilai  arus  kas  dengan instrument lindung  nilai  call  option,  khusus untuk penerbangan haji. Dan melakukakan Pengelolaan  pemakaian  bahan  bakar secara  operasional.
2.    Strategi Risiko Suku bunga, dengan mengelola  eksposur  pada  pinjaman bersuku  bunga  mengambang  dengan strategi  lindung  nilai  tingkat  suku  bunga.
3.    Strategi Risiko liquiditas, menjaga  tingkat  kas  dan  setara  kas yang  dianggap  memadai  untuk  membiayai operasional  Perusahaan  dan  entitas  anak dan untuk mengatasi dampak dari fluktuasi arus kas.
4.    Strategi Risiko Perbaikan Pesawat, dengan melakukan perawatan secara rutin terhadap pesawat–pesawat yang lama mengudara sehingga kondisi pesawat dapat terjaga dan kerusakan yang dimiliki tidak terlalu membengkakan biaya.
5.    Strategi Risiko Bencana Alam, dengan bekerjasama dengan BMKG sehingga mengetahui Report cuaca terkini.
6.    Strategi Nilai Tukar Mata uang, Perusahaan  dan  entitas  anak memanfaatkan peluang harga pasar nilai tukar mata uang lainnya (multi  currency) untuk  menutup  kemungkinan  risiko melemahnya  nilai  tukar  Rupiah  dan begitu  sebaliknya,  sehingga  secara natural  risiko  adanya  pergerakan  nilai tukar  mata  uang  asing  bisa  saling menghilangkan.
Kesimpulan 
Risiko yang dihadapi oleh PT. Garuda Indonesia tertinggi dalam Bencana Alam dan nilai kurs namun tidak menutup kemungkinan risiko – risiko yang lain juga sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu Manajemen Risiko dilakukan guna untuk menanggulangi Probabilitas yang akan terjadi sehingga perusahaan dapat mengantisipasi agar risiko yang didapat minim.
Saran
          Ada baiknya jika strategi penanggulangan risiko benar-benar diterapkan dan diteliti, sehingga meminimalisir risiko yang kemungkinan dihadapi perusahaan.karena tidak ada yang dapat lari dari risiko, hanya dapat diminimalisir.
Daftar Pustaka
Muslich Muhammad, Manajemen Risiko Operasional, 2010
http://market.bisnis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar